Kamis, 02 Mei 2024

AL LAHN (KESALAHAN)

Dalam mempelajari Al-Qur’an seseorang tidak hanya dapat dilakukan melalui belajar sendiri (autodidak), melainkan memerlukan seorang guru yang dapat memberikan ilmu/pengetahuan serta mengevaluasi cara baca seseorang akan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya. Selain itu seorang yang mempelajari Al-Qur’an harus mengerti tata cara membaca Al-Qur’an baik yang berkaitan dengan tata cara Hissiyah (yang dapat di indera) seperti sebelum membaca Al-Qur’an harus berwudlu, membaca Al-Qur’an pada tempat yang suci, menempatkan Al-Qur’an pada posisi terbaik, dan yang lainnya. Selanjutnya tata cara Maknawiyah seperti membaca Al-Qur’an dengan disertai bacaan tajwid, menempatkan hak-hak huruf hijaiyah dengan baik, menempatkan kaidah ilmu tajwid dengan baik, sehingga pembaca tidak akan merusak makna pada ayat yang dibacanya. 

Al Lahn disebut juga kesalahan-kesalahan dalam membaca Al-Qur’an, dalam ilmu tajwid Al Lahn dibagi menjadi dua bagian yaitu:

1. Lahn Al Jali (لهن الجالى)

Lahn Al Jali disebut juga kesalahan besar dalam membaca Al-Qur’an. Kesalahan ini merupakan kesalahan fatal yang terjadi dalam lafadz sehingga tata cara bacaan, baik merubah maknanya atau tidak. Dikatakan kesalahan besar karena kesalahan ini diketahui oleh para Ulama. Kesalahan besar (Lahn Al Jali) meliputi pengucapan huruf ‘Ain seperti Alif, pengucapan huruf Qaf seperti Kaf, dan lain-lain. Kesaahan ini hukumnya Haram. Beberapa kriteria dalam Lahn Al Jali (Kesalahan Besar) antara lain:

a) Perubahan Huruf dengan Huruf

                الضَّا لّيْنَ     menjadi     الظَّا لّيْنَ

            المَغْضُوْب     menjadi المَقْضُوْبِ

            المُسْتَقِيْمَ             menjadi المُصْتَقِيْمَ
                                                                        
            اَلَّذِيْنَ             menjadi اَلَّزِيْنَ


b) Perubahan Haarakat dengan Harakat

                اَنْعَمْتَ   dibaca         اَنْعَمْتِ
                لَمْ يَلِدْ           dibaca         لَمْ يَلِدُ
                قُلْتُ          dibaca         قُلْتِ
                رَبِّ          dibaca         رَبُّ

c) Penambahan Huruf

                مَنْ كَانَ menjadi     مَانْ كَانَ
                    مِنْكُمْ menjadi     مِيْنْكُمْ

d) Penghilangan Tasydid

                    بَدِّلْ menjadi     بَدِلْ
                    عَرَّفَ menjadi     عَرَفَ

e) Penambahan Tasydid

                    فَرِحَ menjadi     فَرِّحَ
                    مَرَجَ menjadi     مَرَّجَ

f) Penghilangan Bacaan Panjang

                اَلْبَيَانَ         menjadi     اَلْبَيَنَ
                اَلْكِتَابُ menjadi     اَلْكِتَبُ

2. Lahn Al Khafi (لهن الخافى)

Lahn Al Khafi disebut juga kesalahan kecil yang berkaitan dengan tidak sempurnanya pengucapaan bacaan, seperti kurangnya membaca panjang pada bacaan mad, terlalu panjang bacaan mad nya, bacaan idzharnya kurang terang, bacaan idghamnya kirang masuk, dan lain-lain. Kesalahan kecil (Lahn Al Khafi) ini hukumnya Makruh. Beberapa kriteria dalam Kesalahan kecil (Lahn Al Khafi) antara lain:

a) Tidak sempurna dalam pengucapan harakat Dhommah

            وَنُوْدُوْا dibaca Wanoodoo

b) Tidak sempurna dalam pengucapan harakat Kasroh

            سَبِيْلْهِ dibaca Sabiileh

c) Tidak sempurna dalam pengucapan harakat Fathah

         اَلْبَاطِلُ dibaca Al Boothilu

d) Menambah Qalqalah pada kata yang seharusnya tidak Qalqalah
e) Mengurangi dengung pada bacaan Ghunnah
f) Terlalu memanjangkan bacaan Mad
g) Terlalu menggetarkan pada pengucapah huruf Ra’


Rujukan

Abdul Mujib Ismail dan Maria Ulfah Nawawi. 1995. Pedoman Ilmu Tajwid. Surabaya: Karya Aditama

H. Sayuti. Ilmu Tajwid Lengkap Qaidah Bagaimana Seharusnya Membaca Al-Qur’an Dengan Baik dan Benar. Sangkala

Pusat Ma’had Al-Jami’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 2023. Tuhfathut Thullab Ta’limul Qur’an. Malang: UIN Press


Rabu, 01 Mei 2024

WAQAF, IBTIDA’ DAN QATH’U 
WAQAF (الوقف) 

Menurut bahasa berarti berhenti atau menahan. Sedangkan menurut istilah merupakan upaya menahan atau menghentikan bacaan Al Qur’am yang dilakukan oleh Qari’ karena beberapa sebab seperti mengambil nafas, mengakhiri bacaan, dll. Menurut Ahmad Muthahhar Abdur Rahmah Al Muroqi, waqaf dapat diartikan sebagai berikut:

 الوقف هو قطع الصوت عند اخرالكلمة مقدارزمن التنفس امّا اقصرمنه فالسّكت 

 “Memutus suara akhir kalimat (ketika membaca Al Qur’an) selama masa bernafas, tetapi jika lebih pendek dari masa bernafas disebut Saktah” 

 Waqaf dapat dilakukan berdasarkan beberapa ketentuan, sebagai berikut: 

 1. Jika kalimat akhir di sukun, maka membacanya tetap di sukun

 Contoh: لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَا اَنَاعَابِدٌمَّاعَبَدْتُّمْ 

2. Jika akhir kalimat berupa Ta’ Marbuthoh (ىة - ة), maka cara membacanya suaranya dirumah menjadi (ىه – ه) 

Contoh: قُلُوْبٌ يَّوْمَئِذٍ وَّاجِفَةُ وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةً لُّمَزَةٍ 

 Apabila akhir kalimat berupa Ta’ Maftuhah (ت), maka cara membacanya tetap dibaca (ت) 

Contoh: اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّأٰتِ  

3. Jika akhir kalimat berharakat (fathah/kasroh/dhommah), maka cara membacanya dengan diwaqafkan dengan harakat sukun 

Contoh: اِقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ  

4. Jika akhir kalimat berupa huruf yang didahuluhi huruf mati (sukun), maka cara membacanya dengan mematikan dua huruf tersebut dengan suara pendek atau dibunyikan sepenuhnya akan tetapi huruf terakhir dibunyikan setengah suara 

Contoh: وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِ  

5. Jika akhir kalimat berupa huruf yang didahului dengan Mad/Mad Lien, maka cara membacanya dengan mematikan huruf terakhir dan memanjangkan bacaan menjadi 1 alif, 2 alif, atau 3 alif. Hal ini sama dengan ketentuan cara membaca pada Mad Arid Lissukun atau Mad Lien

Contoh: اِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍ 

6. Jika akhir kalimat berupa harakat Fathatain ( ً ), maka cara membacanya dengan merubah suara Fathatain menjadi Fathah ( َ ), hal ini sama dengan ketentuan cara membaca Mad ‘Iwad 

Contoh: فِى دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا 

 Pembagian Waqaf Dalam ilmu tajwid
Adapun sebab-sebab waqaf dibagi menjadi 4 antara lain: 

a) Waqaf Idthirori (وقف اضطرارى) 

Merupakan waqaf yang dilakukan dengan terpaksa seperti dalam keadaan batuk, tersedak, kehabisan nafas dll. Maka dalam hal ini Qori’ boleh melakukan waqaf, dan cara memulai bacaan setelah waqaf (ibtida’) adalah dengan memulai bacaan awal pada ayat tersebut.

b) Waqaf Idthidzari (وقف انتظارى) 

Merupakan waqaf yang dilakukan untuk menunggu. Misalkan seorang Qari’ melakukan waqaf (berhenti) pada ayat yang perlu dihubungkan dengan ayat setelahnya dengan wajah lain (bacaan -bacaan Al Qur’an Imam Sab’ah) Pada waqaf ini terdapat perbedaan riwayat Ulama Qurro’ boleh tidaknya berhenti pada ayat tersebut. Oleh karena itu, pembaca boleh mengambil jalan tengah dengan menghentikan bacaanya (berhenti menunggu) pada lafal yang diperselisihkan tersebut, selanjutnya memulai dengan mengulangi pembacaan pada permulaan ayatnya. 

 c) Waqaf Ikhtibari (وقف اختبارى) 

Merupakan waqaf yang dilakukan ketika seorang Qari’ diuji (menjalani ujian). Waqaf tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan kata yang yang terpotong ketika ditanya oleh seorang pengajar Al Qur’an atau seorang Guru ingin memberitahukan muridnya cara berhenti (waqaf) yang benar pada lafad tertentu, dalam kondisi tersebut maka waqaf diperlukan. 

d) Waqaf Ikhtiyari (وقف اختيارى)

 Waqaf yang dilakukan bukan berdasarkan alasan pada waqaf sebelumnya. Waqaf ini dilakukan oleh seorang Qari’ atas pilihannya sendiri. Tentunya pada waqaf ini, seorang Qari’ sudah mengerti kedudukan waqaf, apakah boleh atau tidah untuk mewaqafkan bacaan. 

Pada umumnya, Ulama Qurra’ membagi Waqaf Ikhtiyari menjadi 4 bagian (Waqaf Tam, Waqaf Hasan. Waqaf Kafi, dan Waqaf Qabih). Akan tetapi pada referensi lain (Kitab Fathul Aqfal Fi Syarkhi Tuhfatul Athfal Oleh Syeikh Sulaiman Jamzuri) beliau membagi waqaf ini menjadi 8 bagian (Waqaf Tam, Waqaf Hasan, Waqaf Kafi, Waqah Shalih, Waqaf Mafhum, Waqaf Jaiz, Waqaf Bayan, dan Waqaf Qabih).

Waqaf Tam (Sempurna)

Merupakan waqaf yang sempurna. Berhenti pada perkataan yang menunjukkan makna yang sempurna dalam susunan kalimatnya dan tidak berkaitan dengan kalimat sesudahnya baik lafadz maupun maknanya. Waqaf Tam terdapat pada 2 (dua) tempat, yaitu:

(a)   Di akhir Ayat

Waqaf Tam yang berada di akhir ayat mempunyai beberapa tanda-tanda sebagai berikut:

    • Waqafnya berada di akhir ayat, bisa juga ayat tersebut berkaitan dengan keadaan kaum mukmin
    • Waqafnya berada pada ayat yang merupakan pemisah antara akhir kisah dan awal kisah
    • Waqafnya berada sebelum lafadz yang mengandung Istifham (kalimat tanya)
    • Waqafnya sebelum lafadz yang terdapat Ya’ Nida’ kalimat yang menunjukkan panggilan/seruan)
    • Waqafnya sebelum lafadz Amr (kalimat perintah)
    • Waqafnya menjadi pemisah antara ayat azab dan rahmat
    • Waqafnya merupakan perpindahan dari kalimat berita (ikhbar) ke cerita (hikayat)
    •  Waqafnya setelah Istisna’ (Pengecualian)
    • Waqafnya sebelum Nafi (Peniadaan) dan Nahi (Larangan) 

(b)    Di Tengah Ayat

Waqaf Tan yang berada di tengah kalimat mempunyai tanda-tanda sebagai berikut:

    • Waqaf berada sebelum kalimat syarat (Huruf Syarat مِنْ،لَوْ،مَهْمَا،إِذَا،إِنْ)
    • Waqaf berada setelah akhir kutipan perkataan
    • Waqaf menjadi pemisah antara 2 topik yang berlawanan

 

Waqaf Kafi (Cukup)

Merupakan waqaf yang dilakukan pada suatu kata yang sempurna maknanya namun ada hubungannya dengan kalimat/ayat berikutnya secara makna, namun secara lafadz tidak berhubungan. Untuk memulai (ibtida’) yaitu dari kata setelah kata yang diwaqafkan

Contoh:

اِنَّ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَاَنۡذَرۡتَهُمۡ اَمۡ لَمۡ تُنۡذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ‏ ٦

“Sesungguhnya orang-orang kafir,1 sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman”

 

خَتَمَ اللّٰهُ عَلَىٰ قُلُوۡبِهِمۡ وَعَلٰى سَمۡعِهِمۡ​ؕ وَعَلٰىٓ اَبۡصَارِهِمۡ غِشَاوَةٌ 

 وَّلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيۡمٌ

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka,1 penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat”

Waqaf diakhir ayat 6 dan ibtida’ pada ayat 7 termasuk dalam waqaf Kafi karena kedua ayat tersebut sama-sama membahas tentang kriteria orang kafir, namun secara gramatika ayat 6 tidak berhubungan dengan ayat 7

 

Waqaf Hasan (Baik)

Merupakan waqaf yang dilakukan pada suatu kata uang sempurna maknanya namun ada hubungannya dengan kalimat/ayat berikutnya secara makna dan lafadz. Kemudian dulanjutkan ibtida’ (memulai) bacaan pada kata setelah yang diwaqafkan.

Contoh:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ٢

ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣

مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ ٤

Apabila waqaf di akhir ayat 3, maka termasuk waqaf hasan

 

Waqaf Qabih (Buruk)

Merupakan waqaf yang dilakukan pada kalimat yang belum sempurna susunan kalimat baik dari segi lafadz dan maknanya. Waqaf ini harus dihindari karena dapat merusak makna/maksud dari ayat yang dibaca. Hukum waqaf qabih adalah tidak boleh dilakukan kecuali karena keadaan darurat seperti terputusnya nafas, bersin, atau menguap. Maka untuk memulai (ibtida’) harus mengulangi dari kalimat sebelumnya, agar kalimat tersebut sempurna dengan kalimat setelahnya.

Contoh:

فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهٗ (QS. Al-Baqarah:17)

اِنَّ اللّٰهَ فَقِيۡرٌ (QS. Ali Imran:181)

لَا تَقۡرَبُوا الصَّلٰوةَ (QS. An-Nisa:43)


Tanda-Tanda Waqaf

No

Tanda Waqaf

Arti Tanda

Keterangan

1

م

Waqaf Lazim

Harus berhenti

2

ط

Waqaf Mutlak

Boleh berhenti boleh terus, tetapi lebih baik berhenti

3

ج

Waqaf Jaiz

Boleh berhenti dan boleh terus

4

ز

Waqaf Mujawwaz

Boleh berhenti tetapi lebih baik terus

5

ص

Waqaf Murakkhas

Diberi kemurahan untuk berhenti dalam keadaan darurat/terpaksa

6

قف

Waqaf Mustahab

Berhenti lebih disukai tetapi terus juga boleh

7

لا

La Taqaf

Tidak boleh waqaf, kecuali dibawahnya terdapat tanda awal ayat yang membolehkan waqaf secara mutlak

8

صلى

Washlu Awla

Lebih baik terus

9

قلى

Waqfu Awla

Lebih baik berhenti

10

س

Saktah

Berhenti sejenak tanpa bernafas

11

 

ق

Qila Waqfin

Waqaf yang todak ditetapkan oleh sebagian besar Ulama Qurro’

12

……..

Mu’annaqah

Berhenti pada salah satu tanda dan tidak boleh berhenti pada tanda berikutnya

13

Waqaf Sama’i

Waqaf yang didasarkan pada sima’I (apa yang dilakukan oleh Nabi)



IBTIDA'

Ibtida’ menurut bahasa artinya memulai. Sedangkan menurut istilah merupakan memulai bacaan sesudah Qari’ mewaqafkan bacaan Al Qur’an. Memulai bacaan setelah waqaf ini boleh dilakukan pada kata yang tidak merusak arti susunan kalimatnya. Baik waqaf dan ibtida’ boleh dilakukan dengan ketentuan tersebut.

QATH'U

Menurut bahasa artinya memotong/memutus. Sedangkan menurut istilah merupakan memutus bacaan Al Qur’an dengan niat mengakhiri bacaan. Hal ini seharusnya dilakukan pada akhir ayat. Bagi Qari’ dianjurkan membaca kalimat tasdiq (قصدق اللّه العظيم) ketika mengakhiri bacan Al-Qur’an, dan memulai bacaan dengan kalimat Isti’adzah (اعوذ باللّه من الشيطان الرّجيم)



Rabu, 06 September 2023

MARI MENGENAL FISIKAWAN MUSLIM PERTAMA DI DUNIA 

Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan sekilas sejarah perkembangan ilmu fisika dunia yang di mulai pada zaman kuno hingga era modern seperti ini. Hal ini tentunya cukup membangkitkan rasa penasaran saya terhadap salah satu fisikawan muslim yang ada pada masa tersebut, siapa lagi kalau bukan Ibnu Haitsam (Alhazen). Tentunya tidak boleh kita pungkiri bahwasanya peradaban muslim pada saat itu juga berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum (sains). Sejarah telah membuktikan bahwasanya dunia islam telah melahirkan banyak ilmuwan dengan berbagai keahlian seperti ahli agama, politik, sains, kedokteran, kemasyarakatan, falsafah, dan lain-lain.
Ibnu al-Haitsam

Abu Ali al-Hasan bin al-Hasan bin al-haitsam atau yang lebih populer dengan sebutan Ibnu al-Haitsam lahir sekitar tahun 965 M (354 H) di Basrah, Irak, yang pada saat itu merupakan kekhalifahan Abbasiyah. Ibnu al-Haitsam dikenal juga sebagai Alhazen oleh orang-orang dunia barat. Dia adalah seorang fisikawan dan ilmuwan muslim terkenal yang hidup pada abad ke-10 Masehi. 

Ibnu al-Haitsam memulai pendidikan awal di tempat kelahirannya sebelum diangkat menjadi pegawai pemerintahan. Dia sangat mencintai ilmu pengetahuan, karena hal tersebut ia melakukan hijrah ke Mesir untuk melakukan beberapa penelitian, seperti penyelidikan terkait Sungai Nil, penyalinan buku (matematika dan falak). Hal itu bertujuan untuk mendapatkan uang tambahan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar. 

Ibnu al-Haitsam menjadi seorang yang mahir dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, kedokteran, dan falsafah. Salah satu karyanya yang menjadi refrensi penting dalam kajian bidang sains adalah mengenai cara kerja mata manusia serta teori mengenai pengobatan mata. Ibnu al-Haitsam juga melakukan penyelidikan mengenai cahaya dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya, hal tersebut yang memberikan petunjuk (ilham) kepada para ilmuwan selanjutnya seperti Boger, Bacon, dan Kepler. 

Ibnu al-Haitsam menyatakan bahwa cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat di ufuk timur. Warna merah pada senja akan menghilang apabila matahari berada di garis 19 derjat ufuk barat. Beberapa buku karya Ibnu al-Haitsam yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris antara lain Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai bias cahaya, pembalikan cahaya, senja, lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari, bayang-bayang, serta gerhana.

Ibnu al-Haitsam juga melaukan percobaan terhadap kaca yang dibakar sehingga teori tersebut menjadi pencetus adanya kaca pembesar pertama di dunia. Yang lebih menakjubkan lagi Ibnu al-Haitsam telah menemukan prinsip isi padu udara dan wujud tarikan gravitasi (sebelum Issac Newton). Selain itu dalam bidang lain, Ibnu al-Haitsam menemukan teori mengenai jiwa manusia sebagai salah satu rentetan perasaan yang bersambung secara teratur, hal ini yang mencetuskan adanya wayang gambar yang selanjutnya berkembang menjadi penemuan film yang dapat kita lihat pada masa kini. 

Dalam bidang falsafah, Ibnu a-Haitsam menulis mengenai falsafah, logika, metafisika, dan keagamaan. Bagi Ibnu al-Haitsam, falsafah tidak boleh dipisahkan dari matematik, sains, dan ketuhanan. Ketiga bidang dan cabang ilmu tersebut harus dikuasai oleh seseorang dan untuk menguasainya diperlukan waktu yang cukup serta kegigihan. Beberapa karya Ibnu al-Haitsam yang telah dibukukan sebagai berikut: 

Bidang Optik antara lain: 
1. Risalah Fi Al-Ain Wa Al-Abshar 
2. Risalah Fi Al-Maraya Al-Muhriqah Bi Ad-Dawa'ir 
3. Risalah Fi In'ithaf Adh-Dhau 
4. Risalah Fi Al-Maraya Al-Muhriqah Bi Al-Quthu 
5. Kitab Fi Al-Halah Wa Qaus Qazah

Bidang Astronomi antara lain: 
1. At-Tanbih Ala Ma Fi Ar-Rashdi Min Al-Ghalath 
2. Irtifa' Al-Kawakib 
3. Maqalah Fi Ab'ad Al-Ajram As-Samawiyyah wa Iqdar I'zhamiha wa Ghairiha 
4. Kitab Fi Hai'ati Al-Alam 
5. Risalah Fi Asy-Syafaq 

Bidang Matematika antara lain: 
1. AL-Jami' Fi Ushul Al-Hisab 
2. Ilal Al-Hisab Al-Hindi 
3. Ta'liq Ala Ilm Al-Jabar 
4. Al-Mukhtashar Fi Ilm Al-Handasah 
5. Tarbi' Ad-Da'irah 6. Al-Asykal Al-Hilaliyah 


Referensi 
1. Lorch 2008. 
2. ^ Falco 2007. 
3. ^ Rosenthal 1961. 
4. ^ O'Connor & Robertson 1999. 
5. ^ El-Bizri 2010, hlm. 11: "Ibn al-Haytham's groundbreaking studies in optics, including his research in catoptrics and dioptrics (respectively the sciences investigating the principles and instruments pertaining to the reflection and refraction of light), were principally gathered in his monumental opus: Kitåb al-manåóir (The Optics; De Aspectibus or Perspectivae; composed between 1028 CE and 1038 CE)." 
6. ^ Rooney 2012, hlm. 39: "As a rigorous experimental physicist, he is sometimes credited with inventing the scientific method." 
7. ^ Baker 2012, hlm. 449: "As shown earlier, Ibn al-Haytham was among the first scholars to experiment with animal psychology. 
8. ^ Ackerman (1978), hlm. 119. 
9. ^ Gaudah, 2012.

SEJARAH ILMU FISIKA

Istilah "Fisika" sudah tidak asing lagi di telinga kita. Hal ini kerap kali dihubungkan dengan mata pelajaran yang cukup sulit, banyak rumus dan banyak perhitungan. Namun ada beberapa hal yang perlu kita ketahui teman-teman, bahwasanya "Fisika" juga memiliki sejarah yang cukup panjang dan menarik lho, hal ini juga melibatkan perkembangan konsep serta penemuan ilmiah dari zaman kuno hingga era modern seperti ini. Berikut adalah beberapa titik penting dalam sejarah pelajaran fisika yang perlu kita ketahui:

1. Zaman Kuno

Zaman Yunani Kuno: Beberapa pemikir Yunani kuno seperti Thales, Pythagoras, dan Archimedes mulai memikirkan tentang alam semesta dan sifat-sifat materi. Mereka memperkenalkan konsep-konsep dasar dalam geometri, mekanika, dan optik.

Thales (Natural Philosophy)
Thales (Natural Philosophy)

Phytagoras

Archimedes

2. Abad Pertengahan

Era Ilmiah Islam: Ilmuwan Muslim seperti Alhazen (Ibnu al-Haytham) mengembangkan pengetahuan tentang optik dan metode ilmiah.


Alhazen (Ibnu Haitsam)

3. Abad Ke-16 dan 17
Revolusi Ilmiah: Karya-karya Galileo Galilei dan Johannes Kepler mengubah cara kita memahami gerak planet dan hukum-hukum alam. Isaac Newton mengembangkan hukum-hukum gerak dan hukum gravitasi universalnya.


Galileo Galilei

Johanes Kepler

Sir Issac Newton

4. Abad Ke-18 dan 19
Termodinamika: Penemuan-pernemuan dalam termodinamika oleh ilmuwan seperti James Prescott Joule, Sadi Carnot, dan Rudolf Clausius membawa pemahaman tentang energi dan perubahan fisik.
Elektromagnetisme: Karya-karya Michael Faraday dan James Clerk Maxwell membentuk dasar ilmu elektromagnetisme, termasuk hukum-hukum Faraday tentang elektromagnetisme dan persamaan Maxwell yang menggambarkan medan elektromagnetik.


James Prescott Joule

Nicolas Leonard Sadi Carnot

Michael Faraday

James Clerk Maxwell

5. Abad Ke-20

Teori Kuantum: Fisika kuantum yang dikembangkan oleh Max Planck, Albert Einstein, Niels Bohr, dan lainnya menggambarkan perilaku partikel sub-atom dan fenomena di tingkat atom dan sub-atom.

Relativitas: Albert Einstein merumuskan teori relativitas khusus dan umum yang mengubah cara kita memahami ruang, waktu, dan gravitasi.

Pembelahan Inti Atom: Penemuan-penemuan dalam fisika nuklir dan pembelahan inti atom oleh Enrico Fermi dan lainnya memunculkan pemahaman tentang fisika nuklir.

Max Karl Ernst Ludwig Planck


Albert Einstein

Niels Bohr

6. Era Modern

Fisika Partikel: Eksperimen di dalam percepatan partikel dan penemuan partikel-partikel sub-atom seperti Boson Higgs telah mengarah pada perkembangan model-model fisika partikel yang kompleks.

Fisika Terapan: Fisika telah banyak diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk teknologi, kedokteran, ilmu material, dan banyak lagi.

Sejarah pelajaran fisika terus berkembang seiring berjalannya waktu, dan penemuan-penemuan baru terus mengubah dan memperluas pemahaman kita tentang alam semesta. Fisika terus menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling penting dan berdampak dalam perkembangan teknologi dan pemahaman manusia tentang alam semesta.







AL LAHN (KESALAHAN) Dalam mempelajari Al-Qur’an seseorang tidak hanya dapat dilakukan melalui belajar sendiri (autodidak), melainkan memerlu...