WAQAF, IBTIDA’ DAN QATH’U
WAQAF (الوقف)
Menurut bahasa berarti berhenti atau menahan. Sedangkan menurut istilah merupakan upaya menahan atau menghentikan bacaan Al Qur’am yang dilakukan oleh Qari’ karena beberapa sebab seperti mengambil nafas, mengakhiri bacaan, dll. Menurut Ahmad Muthahhar Abdur Rahmah Al Muroqi, waqaf dapat diartikan sebagai berikut:
الوقف هو قطع الصوت عند اخرالكلمة مقدارزمن التنفس امّا اقصرمنه فالسّكت
“Memutus suara akhir kalimat (ketika membaca Al Qur’an) selama masa bernafas, tetapi jika lebih pendek dari masa bernafas disebut Saktah”
Waqaf dapat dilakukan berdasarkan beberapa ketentuan, sebagai berikut:
1. Jika kalimat akhir di sukun, maka membacanya tetap di sukun
Contoh:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ
وَلَا اَنَاعَابِدٌمَّاعَبَدْتُّمْ
2. Jika akhir kalimat berupa Ta’ Marbuthoh (ىة - ة), maka cara membacanya suaranya dirumah menjadi (ىه – ه)
Contoh:
قُلُوْبٌ يَّوْمَئِذٍ وَّاجِفَةُ
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةً لُّمَزَةٍ
Apabila akhir kalimat berupa Ta’ Maftuhah (ت), maka cara membacanya tetap dibaca (ت)
Contoh:
اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّأٰتِ
3. Jika akhir kalimat berharakat (fathah/kasroh/dhommah), maka cara membacanya dengan diwaqafkan dengan harakat sukun
Contoh:
اِقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ
4. Jika akhir kalimat berupa huruf yang didahuluhi huruf mati (sukun), maka cara membacanya dengan mematikan dua huruf tersebut dengan suara pendek atau dibunyikan sepenuhnya akan tetapi huruf terakhir dibunyikan setengah suara
Contoh:
وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِ
5. Jika akhir kalimat berupa huruf yang didahului dengan Mad/Mad Lien, maka cara membacanya dengan mematikan huruf terakhir dan memanjangkan bacaan menjadi 1 alif, 2 alif, atau 3 alif. Hal ini sama dengan ketentuan cara membaca pada Mad Arid Lissukun atau Mad Lien
Contoh:
اِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍ
6. Jika akhir kalimat berupa harakat Fathatain ( ً ), maka cara membacanya dengan merubah suara Fathatain menjadi Fathah ( َ ), hal ini sama dengan ketentuan cara membaca Mad ‘Iwad
Contoh:
فِى دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا
Pembagian Waqaf
Dalam ilmu tajwid
Adapun sebab-sebab waqaf dibagi menjadi 4 antara lain:
a) Waqaf Idthirori (وقف اضطرارى)
Merupakan waqaf yang dilakukan dengan terpaksa seperti dalam keadaan batuk, tersedak, kehabisan nafas dll. Maka dalam hal ini Qori’ boleh melakukan waqaf, dan cara memulai bacaan setelah waqaf (ibtida’) adalah dengan memulai bacaan awal pada ayat tersebut.
b) Waqaf Idthidzari (وقف انتظارى)
Merupakan waqaf yang dilakukan untuk menunggu. Misalkan seorang Qari’ melakukan waqaf (berhenti) pada ayat yang perlu dihubungkan dengan ayat setelahnya dengan wajah lain (bacaan -bacaan Al Qur’an Imam Sab’ah)
Pada waqaf ini terdapat perbedaan riwayat Ulama Qurro’ boleh tidaknya berhenti pada ayat tersebut. Oleh karena itu, pembaca boleh mengambil jalan tengah dengan menghentikan bacaanya (berhenti menunggu) pada lafal yang diperselisihkan tersebut, selanjutnya memulai dengan mengulangi pembacaan pada permulaan ayatnya.
c) Waqaf Ikhtibari (وقف اختبارى)
Merupakan waqaf yang dilakukan ketika seorang Qari’ diuji (menjalani ujian). Waqaf tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan kata yang yang terpotong ketika ditanya oleh seorang pengajar Al Qur’an atau seorang Guru ingin memberitahukan muridnya cara berhenti (waqaf) yang benar pada lafad tertentu, dalam kondisi tersebut maka waqaf diperlukan.
d) Waqaf Ikhtiyari (وقف اختيارى)
Waqaf yang dilakukan bukan berdasarkan alasan pada waqaf sebelumnya. Waqaf ini dilakukan oleh seorang Qari’ atas pilihannya sendiri. Tentunya pada waqaf ini, seorang Qari’ sudah mengerti kedudukan waqaf, apakah boleh atau tidah untuk mewaqafkan bacaan.
Pada umumnya, Ulama Qurra’ membagi Waqaf Ikhtiyari menjadi 4 bagian (Waqaf Tam, Waqaf Hasan. Waqaf Kafi, dan Waqaf Qabih). Akan tetapi pada referensi lain (Kitab Fathul Aqfal Fi Syarkhi Tuhfatul Athfal Oleh Syeikh Sulaiman Jamzuri) beliau membagi waqaf ini menjadi 8 bagian (Waqaf Tam, Waqaf Hasan, Waqaf Kafi, Waqah Shalih, Waqaf Mafhum, Waqaf Jaiz, Waqaf Bayan, dan Waqaf Qabih).
Waqaf
Tam (Sempurna)
Merupakan waqaf yang sempurna. Berhenti pada perkataan yang menunjukkan makna yang sempurna dalam susunan kalimatnya dan tidak berkaitan dengan kalimat sesudahnya baik lafadz maupun maknanya. Waqaf Tam terdapat pada 2 (dua) tempat, yaitu:
(a) Di akhir Ayat
Waqaf Tam yang berada di akhir ayat mempunyai beberapa tanda-tanda sebagai berikut:
- Waqafnya berada di akhir ayat, bisa juga ayat tersebut berkaitan dengan keadaan kaum mukmin
- Waqafnya berada pada ayat yang merupakan pemisah antara akhir kisah dan awal kisah
- Waqafnya berada sebelum lafadz yang mengandung Istifham (kalimat tanya)
- Waqafnya sebelum lafadz yang terdapat Ya’ Nida’ kalimat yang menunjukkan panggilan/seruan)
- Waqafnya sebelum lafadz Amr (kalimat perintah)
- Waqafnya menjadi pemisah antara ayat azab dan rahmat
- Waqafnya merupakan perpindahan dari kalimat berita (ikhbar) ke cerita (hikayat)
- Waqafnya setelah Istisna’ (Pengecualian)
- Waqafnya sebelum Nafi (Peniadaan) dan Nahi (Larangan)
(b) Di Tengah Ayat
Waqaf Tan yang berada di tengah kalimat mempunyai tanda-tanda sebagai berikut:
- Waqaf berada sebelum kalimat syarat (Huruf Syarat مِنْ،لَوْ،مَهْمَا،إِذَا،إِنْ)
- Waqaf berada setelah akhir kutipan perkataan
- Waqaf menjadi pemisah antara 2 topik yang berlawanan
Waqaf Kafi (Cukup)
Merupakan waqaf yang dilakukan pada suatu kata yang sempurna maknanya namun ada hubungannya dengan kalimat/ayat berikutnya secara makna, namun secara lafadz tidak berhubungan. Untuk memulai (ibtida’) yaitu dari kata setelah kata yang diwaqafkan
اِنَّ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَاَنۡذَرۡتَهُمۡ اَمۡ لَمۡ تُنۡذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ ٦
“Sesungguhnya orang-orang kafir,1 sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman”
خَتَمَ اللّٰهُ عَلَىٰ قُلُوۡبِهِمۡ وَعَلٰى سَمۡعِهِمۡؕ وَعَلٰىٓ اَبۡصَارِهِمۡ غِشَاوَةٌ
وَّلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيۡمٌ
“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka,1 penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat”
Waqaf diakhir ayat 6 dan ibtida’ pada ayat 7 termasuk dalam waqaf Kafi karena kedua ayat tersebut sama-sama membahas tentang kriteria orang kafir, namun secara gramatika ayat 6 tidak berhubungan dengan ayat 7
Waqaf Hasan (Baik)
Merupakan waqaf yang dilakukan pada suatu kata uang sempurna maknanya namun ada hubungannya dengan kalimat/ayat berikutnya secara makna dan lafadz. Kemudian dulanjutkan ibtida’ (memulai) bacaan pada kata setelah yang diwaqafkan.
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ٢
ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣
مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ ٤
Apabila waqaf di akhir ayat 3, maka termasuk waqaf hasan
Waqaf Qabih (Buruk)
Merupakan waqaf yang dilakukan pada kalimat yang belum sempurna susunan kalimat baik dari segi lafadz dan maknanya. Waqaf ini harus dihindari karena dapat merusak makna/maksud dari ayat yang dibaca. Hukum waqaf qabih adalah tidak boleh dilakukan kecuali karena keadaan darurat seperti terputusnya nafas, bersin, atau menguap. Maka untuk memulai (ibtida’) harus mengulangi dari kalimat sebelumnya, agar kalimat tersebut sempurna dengan kalimat setelahnya.
فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهٗ (QS. Al-Baqarah:17)
اِنَّ اللّٰهَ فَقِيۡرٌ (QS. Ali Imran:181)
لَا تَقۡرَبُوا الصَّلٰوةَ (QS. An-Nisa:43)
Tanda-Tanda Waqaf
|
No
|
Tanda
Waqaf
|
Arti
Tanda
|
Keterangan
|
|
1
|
م
|
Waqaf
Lazim
|
Harus berhenti
|
|
2
|
ط
|
Waqaf
Mutlak
|
Boleh berhenti boleh
terus, tetapi lebih baik berhenti
|
|
3
|
ج
|
Waqaf
Jaiz
|
Boleh berhenti dan
boleh terus
|
|
4
|
ز
|
Waqaf
Mujawwaz
|
Boleh berhenti tetapi lebih
baik terus
|
|
5
|
ص
|
Waqaf
Murakkhas
|
Diberi kemurahan untuk
berhenti dalam keadaan darurat/terpaksa
|
|
6
|
قف
|
Waqaf
Mustahab
|
Berhenti lebih disukai
tetapi terus juga boleh
|
|
7
|
لا
|
La
Taqaf
|
Tidak boleh waqaf,
kecuali dibawahnya terdapat tanda awal ayat yang membolehkan waqaf secara
mutlak
|
|
8
|
صلى
|
Washlu
Awla
|
Lebih baik terus
|
|
9
|
قلى
|
Waqfu
Awla
|
Lebih baik berhenti
|
|
10
|
س
|
Saktah
|
Berhenti sejenak tanpa
bernafas
|
|
11
|
ق
|
Qila
Waqfin
|
Waqaf yang todak
ditetapkan oleh sebagian besar Ulama Qurro’
|
|
12
|
﮶……..﮶
|
Mu’annaqah
|
Berhenti pada salah
satu tanda dan tidak boleh berhenti pada tanda berikutnya
|
|
13
|
ﺴ
|
Waqaf
Sama’i
|
Waqaf yang didasarkan
pada sima’I (apa yang dilakukan oleh Nabi)
|
IBTIDA'
Ibtida’ menurut bahasa artinya memulai. Sedangkan menurut istilah merupakan memulai bacaan sesudah Qari’ mewaqafkan bacaan Al Qur’an. Memulai bacaan setelah waqaf ini boleh dilakukan pada kata yang tidak merusak arti susunan kalimatnya. Baik waqaf dan ibtida’ boleh dilakukan dengan ketentuan tersebut.
QATH'U
Menurut bahasa artinya memotong/memutus. Sedangkan menurut istilah merupakan memutus bacaan Al Qur’an dengan niat mengakhiri bacaan. Hal ini seharusnya dilakukan pada akhir ayat. Bagi Qari’ dianjurkan membaca kalimat tasdiq (قصدق اللّه العظيم) ketika mengakhiri bacan Al-Qur’an, dan memulai bacaan dengan kalimat Isti’adzah (اعوذ باللّه من الشيطان الرّجيم)